Jumat, 06 Januari 2012
Quote oh Quote
Kamis, 05 Januari 2012

Green Industry,sang primadona ekonomi masa depan
Ilmu Manajemen Operasi dalam Efisiensi Sumber Daya sebagai kunci demi terwujudnya Green Industry
Green Industry yang selama ini diharapkan sebagai terobosan baru dalam industri dunia demi mendukung terciptanya keberlanjutan ekonomi serta perbaikan lingkungan menjadi sebuah topic terkini walau gagasan ini telah dijadikan sebagai bahan konfrensi dunia pada tahun 2009 di filiphina yang berawal dari harapan banyak orang pada tahun 1985. Banyak harapan yang ditumpahkan dalam gagasan ini, para ahli perekonomian serta ahli lingkungan berusaha menemukan konsep terbaik demi terwujudnya Green Industry yang dapat diterapkan diberbagai belahan dunia dan pada akhirnya di tahun 2009 pencarian itu menemui titik terang dimana beberapa Negara asia dan Amerika serta didukung oleh PBB lewat anak organisasinya UNEP (UN Environment Programme) mempersembahkan hasil awal demi terwujudnya hal itu.
Jika ditelaah, hasil dari konfrensi tersebut sebenarnya tidak membahas jauh dari apa yang telah diterapkan pada ilmu Manajemen Operasi, yakni EFISIENSI. Sumber daya perlu untuk diatur sedemikian rupa hingga terciptanya Green Industry. Karena konsep dasar dari Green Industry adalah efisiensi sumber daya, tanpa pengaturan yang baik dan system manajemen yang ketat, maka inisiasi ini akan menjadi sangat sulit untuk diterapkan.
Green Industry menitikberatkan pada penggunaan Resources yang baik, Efisiensi bahan baku, energy, sampah, pengelolaan karbon, bahkan transportasi menjadi hal yang utama pada konsep ini. Walau tanpa melupakan penggunaan energy alternative yang menghasilkan karbon lebih sedikit juga merupakan salah satu cara dalam green industry. Tetapi dalam bahasan kali ini, penulis akan menelaah usaha tercapainya green industry dengan pendekatan keilmuan Manajemen, Khusus Manajemen Operasi dan lebih spesifik pada Efisiensi.
Singkat tentang EFISIENSI
Efisien menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga dan biaya) mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat. Itu merupakan definisi dari efisien, bagaimana dengan efisiensi. Efisiensi adalah menggunakan sumber daya yang minimum demi mendapatkan hasil yang maksimum. Lebih bijaksana lagi, dalam imlu ekonomi, efisiensi dapat diartikan sebagai pemaksimalan input demi mencapai hasil yang maksimal pula, baik produksi barang atau jasa. Lebih terdengar seperti prinsip ekonomi, tetapi inilah ilmu manajemen operasi. Tetapi pada prakteknya, input dari resources tidak terlalu jauh baik dari segi kuantitas dari output yang dihasilkan. Jika kita lihat dalam formula, maka dapat dituliskan seperti ini.
Efisien = Input/output
Secara sederhana dapat kita simpulkan sama seperti apa yang telah kita tuliskan diatas, bahwa dengan penggunaan input yang baik dan pemanfaatan yang maksimal, kita dapat mendapatkan output yang maksimal pula. Hal inilah yang menjadi kunci utama dalam Green Inndustry.
Efisiensi sebagai kunci Green Industry
Seperti yang telah kita ketahui, efisiensi adalah gagasan dasar terwujudnya industry yang berbasis kehijauan. PT Astra Agro Lestari merupakan salah satu contoh perusahaan yang mulai menerapkan efisiensi sebagai basis green industry mereka, berikut penggalan berita yang dilaporkan oleh www.greenradio.fm, jumat, 4 Maret 2011.
“Astra Terapan Green Industry
Kelompom usaha Astra yang bergerak dalam berbagai bidang telah melakukan konsep green industry sejak tahun 90-an. Menurut M. Riza Deliansyah, Head – Environment & Social ResponsibilityDivision Astra Internasional mengatakan bahwa pihaknya selama ini telah berkomitmen melaksanakan konsep green industry lewat 3 aspek yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi.”Ada 145 perusahaan di seluruh Indonesia yang sudah melakukan konsep itu. Dan kebijakan kami, mewajibkan setiap anak perusahaan untuk mengimplementasikan Astra Green Company, minimal peringkat hijau dan efisiensi sumberdaya alam dan energy minimal 5% persatuan produk,” tandasnya.
Apa yang disampaikan Riza Deliansyah diamini oleh Joko Supriyono, Direktur Astra Agro Lestari yang menjadi salah satu anak perusahaan Astra Grup. ”Social responsibility diterapkan dengan prinrip care to local people. Astra Argo Lestari telah mengembangkan 65.000 hektar plasma. Dari yang dikembangkan itu telah membantu 38.000 kepala keluarga,” kata Joko Supriyono.
Dalam perkebunan plasma ini, kata Joko, masyarakat lokal yang memiliki laham seluas 1-4 hektar mendapat bantuan untuk mengembangkannya agar mandiri dan menghasilkan. Program plasma ini berhasil mengangkat kualitas kehidupan petani local dengan cara berkelanjutan, dimana saat ini rata-rata petani dapat menghasilkan uang 5 hingga 10 juta rupiah per bulannya.
Soal penerapan ramah lingkungan PT Astra Argo Lestari kata Joko, bahkan secara khusus menerapkanenvironmentally friendly lewat prinsip care to planet. ”Kami secara khusus menggunakan bahan bakar produksi dari limbah cangkang dan serat sawit dan bahan bakar soalr kami gunakan pada instalasi awal saja. Selanjutkan proses composting limbah padat, water management dilahan gambut sehingga untuk menjaga tingkat air dan meminimalkan emisi. Hal lainnya adalah kami menggunakan agen biologi untuk hama seperti burung hantu dan ulat, konservasi mangrove di pinggir pantai Sumatra Barat, dan High Conservation Value (HCV). Itu semua dilakukan Astra Argo Lestarikan dalam mengelola kebun sawit yang sesuai dengan prinsip green industry sehingga kami mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup yaitu penilaian peringkat hijau pada 2010 lalu,” ujarnya.”
Pada contoh diatas dapat dilihat bahwa PT Astra Agro Lestari menerapkan kehijauan pada emisi dan renewable energy. Langkah tersebut mencerminkan penghematan sumber energy dimana mengindikasikan perusahaan menggunakan sumber energy seefiesien mungkin tanpa membuang-buang bahan bakar yang ada, apalagi kalau mereka masih menggunakan bahan bakar fossil.
Sebagai tindak lanjut dalam efisiensi sumber daya, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yakni :
· Pemaksimalan pemanfaatan sumber daya (resource)
· Low-carbon Industry
· Good Transportation system
Pemaksimalan pemanfaatan sumber daya (resource)
Ketika bahan baku ditetapkan oleh perusahaan pada hilir proses produksi, perusahaan telah menghitung berapa sumber daya yang diperlukan untuk memroduksi sedemikian produk dengan kuantitas tertentu. Tetapi apakah sumber daya ini bisa digunakan sepenuhnya secara maksimal atau tidak tergantung pada midstream atau proses pembuatan.
Ketika proses pembuatan dilakukan, pada saat inilah konsep efisiensi harus diterapkan. Sebuah perusahaan pembuat otomotif akan memperhitungkan berapa jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat 100 buah jenis kendaraan yang sama. Ketika perusahaan tersebut dapat memaksimalkan sumber daya yang dipakai, maka dengan membeli bahan yang berkecukupan pun tidak akan menyebabkan kekurangan bagi perusahaan dalam memproduksi jumlah kendaraan tersebut atau bisa disebut “Produksi Pasti Pas”.
Dengan adanya efisiensi dalam perusahaan mengindikasikan bahwa makin sedikitnya sampah yang dihasilkan dalam proses produksi sebelum akhirnya sampe ke hilir. Sumber daya dimanfaatkan sampai titik maksimalnya sedemikian rupa hingga mencapai output yang optimal. Bermula dari titik inilah Green Industry terbentuk, “Less Waste” berarti pencemaran dikurangi, yang berarti industri dapat membantu mempertahankan ekologi yang baik dan berkesinambungan tanpa mengindahkan pendapatan yang maksimal. Karena permasalahan yang timbul saat ini adalah pabrik masih belum mampu menanggulangi sampah hasil produksinya, sampah tercipta tetapi produksi kurang maksimal dan banyak barang produksi yang tidak terpakai. Alangkah sayangnya sampah ini terbuang tetapi produksi perusahaan tidak optimum. Lagipula, perusahaan memerlukan waste Management dalam proses produksinya, demi mendukung Green Industry.
Akan tetapi dalam prakteknya, perusahaan jangan sampai melupakan Total Quality Management (TQM). Walaupun perusahaan diharapkan untuk tetap mempertahankan efisiensinya, perusahaan juga diharapkan tetap mengacu untuk menghasilkan produksi tanpa kecacatan atau Zero Defect. Jangan sampai demi menggunakan sumber daya yang maksimal, malah melupakan mempertahankan kualitas produk. Just In Time merupakan salah satu solusi dalam pengadaan bahan baku sehingga bahan baku tidak terdepresiasi lebih besar nilainya di dalam Inventory.
Low-Carbon Industry
Perusahaan juga dapat melakukan Green Industry dengan melakukan manajemen dalam penggunaan bahan bakar dan energy. Bahan bakar sangat berperan penting dalam proses produksi atau midstream. Tidak ada produksi yang dapat dilakukan tanpa menggunakan bahan bakar sebagai penggerak mesinnya. Akan digerakkan dengan apa jika tidak ada bahan bakar sebagai sumber energinya.
Di Indonesia, masih banyak perusahaan yang masih menggantungkan produksinya pada penggunaan Bahan Bakar Fossil. Bensin memiliki oktan sebanyak 88 ikatan, hal ini menyebabkan makin banyak carbon yang akan terlepaskan dalam penggunaannya. Efisiensi dalam penggunaan bahan bakar disini juga menjadi sangat penting dalam proses di midstream.Bayangkan betapa banyaknya asap yang mengadung CO (Carbon Monoksida) jika perusahaan tidak mengatur dengan baik bahan bakar yang digunakkannya.
Selain pengaturan, perusahaan juga dapat melirik penggunaan bahan bakar terbarukan (renewable energy) untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Fossil dan penggunaan teknologi termuktahir untuk mengurangi volume asap akibat penggunaan bahan bakar fossil.
Good Transportation System
Efisiensi juga diperlukan dalam pengaturan jalur distribusi sebuah perusahaan. Efisiensi biaya pengiriman serta penggunaan bahan bakarnya pun harus diperhitungkan. Secara sederhana, semakin baik perusahaan dalam melihat jalur dan pemetaan yang baik dengan bantuan Center of Gravity serta Global Positioning System, pemilik keputusan akan sangat dibantu dalam pengaturan terbaik dalma proses trasnportasi. Biaya dapat diperhitungkan dan bahan bakar dapat diatur.
Jika perusahan tidak bijak dalam penggunaan biaya dalam transportasi, maka akan sangat merugikan perusahaan dalam penghitungan Income Statement. Jika tidak bijak dalam menentukan, maka penggunaan bahan bakar pun menjadi tidak bijak dan pada akhirnya hanya menambah emisi yang berdampak langsung pada alam. Kebijaksanaan perusahaan pun menjadi kunci penting dalam proses trasnportasi dari Up-Stream ke Down-Stream.
Kesimpulan
Green Industry merupakan hasil dari keberhasilan perusahaan dari menerapkan system manajemen operasi yang baik. Sehingga tidak menutup kemungkinan ketika ada perusahan yang ingin merubah diri menjadi sebuah green industry akan sangat menjadi mudah ketika ia telah memeliki manajemen operasi yang baik.
Minggu, 25 Desember 2011
opini untuk portal UGM
Pulang malam kini menjadi makin sulit ketika melewati jalan agro daerah kampus UGM, tepatnya dibawah jembatan bergaya klasik tersebut. Terdapat portal yang gagah menjaga daerah Kampus UGM dari segala hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak Stakeholder UGM. Setelah portal tersebut yang kini selalu ditutup ketika melewati pukul 22.00, memang peruntukkannya demi keamanan UGM dan mahasiswa dapat memaklumi hal ini, karena mahasiswa yang kebanyakan pengendara sepeda motor masih bisa melewati portal tersebut berkat dibukanya celah kecil yang menjadi pintu keluar masuk selama portal ditutup.
Seminggu ini pemandangan tersebut mungkin sudah akan sangat jarang terlihat, portal semakin tidak bersahabat dengan kami para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang terpaksa harus memutar kendaraan roda duanya karena portal tersebut kini semakin menunjukkan kegagahannya demi menjaga kampus tercinta kami, UGM.
Motor-motor malang itu terpaksa harus kembali ke boulevard UGM dan melewati jalan kaliurang yang cukup panjang demi mencapai rumah atau kosan mereka, padahal jika diukur, jarak kosan mereka dengan portal tadi hanya butuh 5 menit perjalanan.
Ya, celah kecil itu sekarang sudah tidak terbuka lagi untuk para mahasiswa, bukan pintu kecilnya yang menutup, tetapi ada besi penghalang yang menghalangi kami, untuk melewati portal tersebut. Mungkin satuan keamanaan kampus kami ingin yang terbaik demi penjagaan keamanan UGM, mungkin saja jika pintu kecil tersebut tidak diberi penghalang, bisa saja orang yang tidak diinginkan mengancam keamanan kampus kami.
Ya, kami mengerti kekhawatiran itu, tetapi apa tidak dikhawatirkan juga kami para mahasiswa. Kami dianjurkan sekali untuk membuat waktu kami efektif dan se-efisien mungkin. Kami sangat dianjurkan untuk mengatur waktu kami sebaik mungkin, tetapi kenapa usaha kami sedikit terusik oleh penghalang besi tersebut. Coba hitung berapa waktu yang lumayan terpakai untuk memutar rute padahal kami hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencapai tujuan jika celah kecil tersebut masih dibuka.
Jika memang ingin mendukung kami sebagai insan cendikia baru, silahkan diperhatikan curahab hati ini. Kami tahu pembuat kebijakan ini sangatlah focus demi kenyamanan kampus educopolis ini, tetapi kami mahasiswa juga butuh hal ini untuk diperhatikan. Demi kami yang akan belajar tentang efisiensi dan efektifitas.
Minggu, 11 Desember 2011
Sebuah surat advokasi dari Jembatan Mahakam
Kamis, 08 Desember 2011
Korupsi oh Korupsi
Ketika mendengar kata korupsi, pasti akan menjadi suguhan tiap pagi di setiap media yang ada di negeri tercinta kita ini, Indonesia. Predikat korupsi tertinggi yang disandang oleh bangsa ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, karena masih saja setiap harinya lingkungan kita dihantui oleh bayang-bayang korupsi.
Korupsi secara sederhana diartikan sebagai tingkah laku mengambil uang yang bukan haknya, atau mencuri atau sebagainya. Pernyataan ini benar dan tidak diragukan lagi, tetapi hanya sampai sebatas itukah yang kita namakan korupsi, tentu tidak.
Masih terngiang di telinga kita mengenai kasus Nazarudin yang menggelapkan uang dalam pembangunan wisma Atlet, Mantan Putri Indonesia pun ikut terseret dalam kasus, bahkan orang sekaliber Anas Urbaningrum pun menjadi bulan-bulanan media. Sungguh mengenaskan kasus korupsi yang terjadi saat ini. Sebuah rekening bank berisi uang Rp 500.000.000.000,- (lima ratus milyar rupiah) dimiliki oleh pemuda berumur 28 tahun seorang pegawai negeri sipil, darimana asal uang tersebut bagi seorang pegawai yang belum tingi jabatannya, “tilep” uang rakyat atau memang bonus dari negera? Kalau bonus dari negera, seorang atlet kelas dunia yang mengharumkan nama Indonesia pun belum tentu memiliki rekening segendut itu.
Sebagai mahasiswa apa yang dapat kita lakukan menanggapi fenomena ini. teriak di depan istana negara? atau diam saja. semua tanggapan itu relatif bagaimana orang memandangnya, jika ia ingin berteriak, silahkan berteriak, jika ingin diam, silahkan telan diam itu. tetapi ada banyak hal elegan yang dapat mahasiswa lakukan. salah satunya membina diri dan lingkungan kita. bina diri untuk anti Korupsi merupakan fondasi awal perubahan. kalau satu eprsatu orang indonesia sadar akan bahaya korupsi, betapa kita akan menjadi kebanggaan bangsa, karena kita menjadi bangsa yang jujur.
Program lain yang bisa kita lakukan adalah mengajari orang-orang sekitar kita yang umurnya masih lebih muda dari kita tentang smengat anti korupsi. Adik kita, bahkan anak-anak SD sekitar kita pun bisa kita ajari tentang hal itu. Mahasiswa mengajar, program ini kita namai. Mengajar mereka tidak hanya bisa membuat mereka untuk berhitung dan menulis, tetapi mereka tahu mana yang benar dan maba yang salah, mana yang korupsi, man yang bukan. Memberi mereka sedikit kasus mengenai lingkungan sekitar mereka merupakan cara yang cukup efektif mengenalkan semangat anti korupsi pada anak-anak ini. Bayangkan kalau hal ini kita anggap sebagai investasi masa depan, betapa indahnya nanti negeri ini dipenuhi generasi anti-korupsi.
Selamat Hari Anti Korupsi